Contact info

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 20 November 2014

Mental Kuat Bisa Hindarkan Siswa dari Narkoba



 

JAKARTA - Mental yang kuat bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), diharapkan bisa menghindarkan mereka dari pengaruh negatif narkoba.

Hal itu dikatakan Pelaksana Bimbingan Teknis Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) Eva Fitri Yuanita. Menurutnya, persoalan mentak bisa terlihat saat siswa kelas IX menghadapi ujian kelulusan.

Diakuinya, pada momentum ini siswa harus mendapat perhatian serius dari pihak sekolah. Sebab, jika pihak sekolah menganggap remeh beban yang dihadapi siswanya saat akan menghadapi ujian kelulusan dan cenderung mengabaikan persiapan mentalnya, maka bukan tidak mungkin para siswa akan tergoda untuk menyalahgunakan narkoba.


Hal itu dikatakannya dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan bersama guru dan siswa SMP Negeri 80, di Jalan Kayatun Trikora, Halim Perdana Kusuma.

"Para pelajar kelas IX memang memerlukan perhatian lebih dari pihak sekolah, karena mereka memiliki beban yang berat untuk lulus ujian. Sering kali tekanan yang berat apabila tidak diimbangi dengan mental yang kuat dapat membuat seorang pelajar terjerumus kepada penyalahgunaan narkoba," ujar Eva dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/11/2014).

Eva juga menyampaikan kepada siswa bahwa, betapa bahayanya menyalahgunakan narkoba. Karena, jika terlanjur menjadi pecandu narkoba, maka tidak akan ada lagi kesempatan untuk memperbaiki organ tubuh yang sudah rusak.

“Jika sudah menjadi pecandu, maka otak akan rusak. Otak yang sudah rusak tidak bisa disembuhkan. Jika sudah begitu, sama saja dengan menghancurkan masa depan kita sendiri," tutur Eva.



Kurangnya Pemerataan Pendidikan Indonesia




Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum bagi setiap manusia dimuka bumi ini. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia. Dalam kondisi apapun manusia tidak dapat menolak efek dari penerapan pendidikan. Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memanjakan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Di Indonesia, tidaklah menjadi hal yang tabu bahwa pada bidang pendidikan mengalami banyak permasalahan. Permasalahan Pendidikan Indonesia adalah segala macam bentuk masalah yang dihadapi oleh program-program pendidikan di negara Indonesia, seperti masalah pemerataan pendidikan yang tidak merata.
Pengertian dari masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembanguan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Pemerataan pendidikan telah mendapat perhatian sejak lama terutama di negara-negara berkembang. Hal ini tidak terlepas dari makin tumbuhnya kesadaran bahwa pendidikan merupakan peran penting dalam pembangunan bangsa.
Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga Negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat di tampung dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilita pendidikan yang tersedia. Saat ini kondisi pendidikan di Indonesia masih belum merata. Misalnya saja di kota-kota besar sarana dan prasarana pendidikan disana sudah sangat maju. Sedangkan di desa-desa hanya mengandalkan sarana dan prasarana seadanya. Bukan hanya masyarakat di desa saja yang masih tertinggal pendidikannya. Daerah-daerah di Indonesia timur bukan hanya sarana dan prasarana yang kurang tapi juga kurangnya tenaga pengajar sehingga sekolah-sekolah disana masih membutuhkan guru-guru dari daerah-daerah lain. Walaupun ada warga negara Indonesia yang tinggal di kota-kota besar tapi karena mereka termasuk ke dalam warga negara yang kurang mampu sehingga mereka tidak bisa merasakan pendidikan. Banyak anak-anak yang masih di bawah umur sudah bekerja untuk membantu orang tua mereka dalam mempertahankan hidupnya.
Padahal, bagi anak-anak di bawah umur sangatlah membutuhkan pendidikan minimal sekali adalah sekolah dasar, sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajauan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat pembangunan.
Tentunya, untuk mengatasi masalah pemerataan pendidikan pemerintah telah mengupayakan berbagai cara agar pendidikan di Indonesia merata sejak tahun 1984. Seperti mulai dari pemerataan pendidikan sekolah dasar, selanjutnya diikuti dengan wajib belajar 9 tahun sejak 2 Mei tahun 1994. Wajib belajar 9 tahun direncanakan tuntas pada tahun 2008, serta menyebar lulusan guru-guru ke daerah-daerah yang masih minim tenaga pengajarnya dan banyak lagi program-program yang pemerintah lakukan.
Sudah banyak dari program-program pemerintah tersebut yang berhasil, namun upaya-upaya yang dilakukan pemerintah tidak semuanya berhasil. Masih banyak upaya pemerintah yang kurang berhasil bahkan bisa juga disebut gagal dalam pelaksanaannya.
Menurut saya masalah ini dapat sedikit diatasi dengan cara pada desa-desa terpencil yang sarana dan prasarana pendidikannya belum memadai itu lebih difokuskan, diadakan SD kecil pada daerah terpencil, Sistem guru kunjung, SMP terbuka, Kejar paket A dan b, Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka, selain itu semua pihak harus turun tangan langsung, selain pengiriman guru-guru dan barang-barang untuk menunjang pendidikan, tetapi harus ada pihak yang memberikan arahan kepada masyarakat baik orang tua dan anak-anak betapa pentingnya memperoleh pendidikan. Karena tidak semua masyarakat menyadari arti dari pendidikan.
Dapat diambil kesimpulan bahwa pemerataan pendidikan di Indonesia belum tercapai, selain sarana dan prasarana yang belum memadai diberbagai daerah-daerah juga kesadaran masyarakat Indonesia tentang pendidikan masih kurang.  Padahal,  pemerataan pendidikan di Indonesia itu sangatlah penting. Padahal telah banyak cara yang ditempuh agar pendidikan merata di setiap daerah. Tentunya, kita semua berharap bahwa Indonesia menjadi negara yang memiliki SDM berkualitas, berpendidikan serta berpotensi. Karena bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki generasi yang cerdas dan berpotensi.


Sumber 

Konflik Remaja Picu Pelajar Konsumsi Narkoba



JAKARTA - Kenakalan pelajar dinilai merupakan salah satu tanda kegagalan dalam proses perkembangan jiwa remaja. Kondisi tersebut dinilai bisa menjadi potensi remaja menjadi pecandu narkoba.

Analisis Monitoring Manajemen Kekambuhan dan Wajib Lapor Deputi Bidang Rehabiltasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Rusdiana HB mengatakan secara psikologi, kenakalan pelajar merupakan wujud dari konflik yang tidak terselesaikan.

"Mereka akan mencari cara sendiri guna menyelesaikan masalahnya, seperti dengan mencoba-coba narkoba," tutur Rusdiana saat diskusi dengan pelajar SMK PGRI 4, Jakarta, Minggu (16/11/2014).

Menurut dia, penyalahgunaan narkoba pada pelajar dimulai dari tahap coba-coba dan kemudian menjadi kecanduan.

"Pelajar jangan mudah terpengaruh oleh teman sebaya, karena bandar narkoba memanfaatkan rekan sebaya untuk mencari mangsa untuk menjadikannya pecandu narkoba," tambahnya.

Selain itu, lanjut Rusdianan, sekolah juga perlu melakukan kontrol secara terus-menerus terhadap  anak didiknya demi menyelamatkan mereka dari penyalahgunaan narkoba.

Apabila terdapat anak didiknya yang menjadi pengguna maka sekolah harus memberikan sanksi kepada pelajar tersebut.

"Pelajar diminta untuk menjaga diri dari penyalahgunaan narkoba dan juga harus berani menolak segala bentuk penyalahgunaan narkoba, maka jadilah polisi bagi diri sendiri," tutup Rusdiana.



JK: Perdamaian Tidak Hanya Dicapai dengan Diskusi




JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) menghadiri sekaligus membuka World Peace Forum yang juga rangkaian Milad Muhammadiyah ke-102 tahun.

Dalam pidatonya, JK berharap diskusi perdamaian yang dilakukan melalui forum tersebut bisa terlaksana dengan baik.



"Pesan saya perdamaian tidak hanya dicapai dengan diskusi, tapi harus melalui bertindak dengan adil. Saya kira damai yang bisa dicapai secara komprehensif," kata JK di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (20/11/2014).

Dia juga menyampaikan keprihatinannya karena banyak konflik agama di sejumlah negara. JK berharap hal semacam itu tak terus terjadi.

"Pada dasarnya agama punya tujuan yang sama," terangnya.

Selain keadilan yang merata, konflik bisa dihindari apabila ada soliditas yang kuat dari penduduk di suatu negara.

"Tentu ajaran yang mesti diluruskan bersama-sama, disamping itu keadilan dasar keagamaan perlu dilakukan perlu ditingkatkan soliditas," ucapnya.

"Saya ingin menyampaikan kepada peserta forum ini supaya dapat membicarakan hal-hal yang baik," pungkasnya.




Sumber 

BNN: Jakarta Peringkat Satu Penyalahgunaan Narkoba




JAKARTA - Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan Provinsi DKI Jakarta sebagai kota paling rawan akan bahaya narkoba. Sekurangnya, BNN mencatat sekira 4,5% penduduk Jakarta teridentifikasi menggunakan narkoba.

Kasi Dunia Maya, Radio dan Televisi BNN M Affan Eko Budi mengatakan, tingginya pengguna narkoba di Jakarta karena warga ibukotamemiliki daya beli yang tinggi serta kurangnya informasi mengenai bahaya menggunakan narkoba.


"Jakarta menempati peringkat nomor satu dalam tingkat penyalahgunaan narkoba, baik karena kurangnya pengetahuan atau memang permintaan yang selalu ada," ujar Affan melalui siran pers BNN yang disampaikan kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/11/2014)

Yang mengkhawatirkan, lanjut Affan, narkoba disinyalir menyasar ke sejumlah kalangan lintas profesi. Bahkan, narkoba juga tengah mengancam hampir semua umur.

"Narkoba tidak hanya dipakai oleh masyarakat biasa, tetapi anak-anak, mulai dari taman kanak-kanak, pelajar menengah, mahasiswa, pekerja bahkan para pejabat di pemerintahan pun tak jarang terjangkit obat-obatan terlarang ini," jelasnya.

Dia menjelaskan, maraknya pengguna narkoba di Jakarta selain lemahnya pengawasan dan informasi, juga lingkungan di luar rumah turut menyumbang penyebab seseorang menggunakan narkoba.

"Hal ini bisa terjadi tak lain karena terpengaruh lingkungan, ajakan, tekanan di tempat kerja atau pun karena kurangnya pengetahuan akan bahaya narkoba," jelasnya.

Affan berharap, BNN melalui kegiatan rutin Focus Group Discussion (FGD) akan mampu mengajak masyarakat lebih awas terhadap gejala dan penyebaran narkoba di Jakarta.

"Selain itu, masyarakat yang sudah mengerti kemudian mau menjadi agen pencegahan untuk mengajak keluarga, teman, kerabat kerja sampai lingkungan sekitar untuk hidup sehat tanpa narkoba," pungkasnya.


Banyak Siswa Miskin Tidak Terdata, Anies Gemas




JAKARTA - Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengaku gemas lantaran ketika Pemerintahan SBY lalu, data siswa miskin tidak banyak.

Dia mengungkapkan, kenyataannya siswa miskin lebih banyak dari yang disebutkan pemerintah.


"Jumlah siswa miskin yang dimasukkan itu terlalu sedikit menurut saya. Kita banyak sekali yang miskin yang enggak dimasukkan. Gemes saya jadinya. Saya orang baru, ngeliat datanya, yang bener aja, data siswa miskin cuma segini," ujar dia di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Rabu (12/11/2014).

Bahkan, dia menuturkan bahwa sedikitnya siswa miskin yang terdata dan diberi bantuan BSM lantaran biar kelihatan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia hanya sedikit.

"Dulu pemerintah enggak mau mengakui siswa miskin makin banyak, kenyataannya banyak kok. Masak yang diberi bantuan BSM cuma sedikit, biar kelihatannya jumlah siswa miskin menurun. Saya enggak tahu angkanya berapa, tapi angka prediksinya itu bisa sampai 15 juta lebih," tandasnya.